Rabu, 12 September 2012

Ayo Kita Dekati Kecepatan Cahaya


Setelah apa yang saya lakukan di bulan ini, ternyata kesempatan itu akan hadir bila kita menjemputnya. 

Pertama kali menginjak tanah Bandung saya hanya niat untuk kuliah dan hanya kuliah. Ternyata pemikiran itu salah, kuliah bukan hanya masalah menimba ilmu, tapi mampu membentuk sikap dan mental yang dewasa.
Memasuki tahun pertama kuliah, rasanya itu ‘kamitenggengen’ semacam orang yang lagi tidur terus dibentak. Masih suka rindu suasana rumah. Masih suka kesiangan , eh tapi kuliah sih ga pernah telat yak. Saat KBM di kelas dengan dosen pun masih suka haha-hihi dengan teman.
Tapi masuk semester 2,3,4 aaaaah rasanya itu bukan ‘kamitenggengen’ tapi kaya orang tidur trus ditonjok dan dikentutin.

Di semester itulah tawaran dan kesempatan hadir menghampiri juragan Hendri Fandianto.

Saat sibuk-sibuknya kuliah (sama organisasi juga loh yah) datang tawaran buat mengajar les atau pun private, datang tawaran menulis mingguan artikel di majalah , datang tawaran untuk bisnis jualan produk, dan masih banyak lagi tawaran-tawaran yang lain.
Dasar saya yang malas atau gimana ya yang pasti semua tawaran yang tiap saat datang silih berganti selalu saya tolak. Ada semacam pikiran ah takut ganggu kuliah, ah takut IPK jeblok, ah takut kurang tidur dan ah ah yang lain.
Atas apa yang telah saya lakukan saya sadar sekarang. Kenapa dulu selalu menyia-nyiakan hujan kesempatan. Orang yag dulunya ngajak saya untuk mengajar di lembaga itu sekarang masih mengajar di lembganya, teman-teman yang sesama pendidikan fisika pun banyak yang mengajar dari semester 2, orang yang ngajak bisnis jualan sekarang tambah maju bisnisnya, si yang punya majalah yang pernah ngajak gabung pun makin kece majalahnya. Yang lain kok bisa yaah.

Tapia apa yang saya dapat sekarang ?
Mungkin bisa dikatakan stagnan jika acuannya adalah mandiri untuk hidup.

Bukan manusia namanya kalau tidak mau berubah ke arah yang lebih baik, di semester 5 ini saya sedang mengumpulkan kembali runtuhan kesempatan-kesempatan yang datang di semester 2,3,4. Mulai bulan ini saya mengajar di sebuah lembaga private , kalau mengajar sih sesuai dengan kuliah saya karena saya sedang menggeluti studi pendidikan fisika. Walaupun awalnya sangat ‘kikuk’ berhadapan langsung dengan siswa sampai si siswa itu gak tau yaah berapa kali dia nguap dalam dua kali 60 menit, sayu sorot matnya sih mengindikasikan kalau si siswa malas untuk belajar dengan saya haha. Tapi makin hari senyumnya mulai tampak, sorot matanya tidak lagi sayu haha semoga indikasi itu menandakan si siswa senang belajar dengan saya. Masalah bisnis saya sedang merencanakn modalnya dan untuk urusan tulis menulis saya sedang mncoba menulis sebuah novel.

Ternyata setelah berusaha, saya bisa untuk melakukannya, aww Allah sangat baik kepada saya. Seperti apa yang didapatkan dari kuliah kuantum kemarin setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing dan keduanya tak bisa disamakan jika masih dalam pandangan klasik, tapi dalam pandangan kuantum pada suatu keadaan tertentu, ketika kecepatannya mendekati cahaya maka semua bisa menjadi sama. Allah menganugerahkan bakat setiap manusia berbeda-beda , dengan bakat itu manusia mengolahnya menjadi bagian-bagian kehidupan. Bila usaha kita mendekati kecepatan cahaya maka setiap manusia di belahan bumi manapun semua dapat meraih kesuksesannya. Mari menjemput kesempatan dan maksimalkan bakat yang Allah berikan !
luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com