Senin, 31 Oktober 2016

SEPENGGAL FIRDAUS DARI INDRAMAYU

Sebelum memulai tulisan ini izinkan saya mengucapkan terima kasih dan respect kepada seluruh anggota Blogger Mangga yang tak henti-hentinya untuk selalu berkarya dan eksis mempromosikan Indramayu di Internet. Sukses untuk Blogger Mangga !


***

Google pun tau Indramayu Kota Mangga

“Saya Hendri, dari Indramayu” kataku kepada teman-teman baru di kampus. “Oh pasti punya banyak mangga” “Kalau pulang jangan lupa bawa mangga ya” itu sekelumit respon mereka tentang Indramayu. Indramayu adalah mangga. Jika saja mereka tahu, Indramayu seperti sepenggal firdaus, mungkin tanggapannya akan “Jangan lupa bawa rumbah darinih, burbacek, mangga, beras, lotek, sambel, tape ketan, ikan bakar, kue koci, keripik dadar, tuuut tuuuut tuuuuut banyak buanget” yaa mungkin saja.

Dua puluh empat tahun silam saya lahir di tanah wiralodra ini. Bagiku Indramayu bukan saja tanah kelahiran, ia adalah tempat untuk kembali, tempat untuk melepas rindu. Kota besar menawarkan gemerlap kemewahan yang mungkin membuat orang takjub, ah tidak bagiku tetap Indramayu yang akan selalu menyuguhkan kedamaian dan ketenangan. Indramayu itu eksotis, Sungai cimanuk yang tenang, hutan Mangrove yang sejuk, lari-lari kecil di sport centre, manisnya buah mangga gincu, indah lautnya, keriuhan jalan pantura, musik dangdutnya, dan tidak bisa saya sebutkan semua alasan kenapa selalu rindu untuk pulang saat di tanah rantau.

Secara geografis Indramayu adalah daerah yang strategis, karena merupakan salah satu daerah yang dilintasi oleh jalur Pantura dan jalur Tol Cipali. Letak Kabupaten Indramayu yang membentang sepanjang pesisir pantai utara Pulau Jawa membuat suhu udara di kabupaten ini cukup tinggi. Tak heran bila masayarakatnya didominasi oleh petani dan nelayan karena menjadi daerah yang langsung berbatasan dengan laut dan tanahnya yang subur membuat Indramayu didaulat sebagai lumbung padi nasional. Kondisi geografis dan profesi masyarakat yang sebagian besar adalah petani dan nelayan banyak mempengaruhi kebudayaan yang berkembang di Indramayu. Kultur masyarakat dipengaruhi oleh budaya sunda dan budaya jawa, masyarakat sering menyebutnya dengan Jawa Priangan. Percampuran budaya jawa dan budaya sunda memberikan ciri khas tersendiri bagi masyarakat yang memperkaya khasanah budaya di Indramayu dari mulai bahasa, adat istiadat, dan kesenian daerah.

            Sebelum kita jauh membahas tentang budaya di Indramayu, mari kita bedah makna kata budaya itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Budaya adalah sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi. Secara tata bahasa, arti dari kebudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung menunjuk kepada cara berpikir manusia. Sedangkan jika merujuk pada halaman Wikipedia, budaya didefinisikan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Jika kita tarik makna dari dua literatur diatas budaya selalu berkaitan dengan sebuah pemikiran masyarakat dan berlangsung secara terus menerus. 

Budaya apa saja yang lahir dan berkembang di Indramayu ?

Membaca Alquran Selama 15 Menit Sebelum Kegiatan Belajar di Sekolah
Jauh sebelum diterapkannya peraturan membaca sebelum belajar di Indonesia (Budaya Literasi), di Indramayu sudah berjalan peraturan membaca Alquran selama lima belas menit sebelum belajar. Masih ingat dalam ingatan saya, tepatnya 13 tahun silam saat saya masih duduk di bangku Kelas V Sekolah Dasar, aturan ini mulai digalakkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Indramayu. Gerakan membaca Alquran 15 menit sebelum belajar yang semula hanya berlaku di Indramayu lambat laun diikuti oleh kabupaten-kabupaten yang lain di Jawa Barat. Gerakan ini sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh siswa-siswi di Kabupaten Indramayu yang suatu saat akan diturunkan dari generasi ke generasi menjadi budaya yang lekat bagi masyarakat Indramayu. “Menyalakan lilin lebih baik daripada mengutuk kegelapan” adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan gerakan membaca Alquran sebelum di mulainya jam belajar di sekolah. Sasaran dari gerakan ini adalah pelajar, karena kelak mereka lah yang akan menjadi penerus tongkat estafet kepemimpinan di Indramayu, kelak mereka lah yang akan menjadi manusia pembeda di tengah arus modernisasi yang kian gencar menggerus generasi muda.

Gotong Royong
Gotong royong sudah menjadi budaya warga di Indramayu. Setiap kali ada yang membangun rumah dan membangun jalan yang rusak semua warga berbondong-bondong ikut ambil bagian di dalamnya. Ketika ada yang hajatan semua warga datang membantu suksesnya acara tersebut, di Indramayu ini disebut “ulem-ulem

Sintren


"Sintren"

Budaya sintren adalah budaya rakyat yang telah hadir dari generasi ke generasi. Menurut orang tua saya, jaman dulu kalau ada pertunjukkan sintren pasti rame sekali, hampir warga satu desa tumpah ruah untuk menonton sintren. Hanya orang-orang kalangan menengah ke atas yang mampu mendatangkan sintren ini. Betapa elitnya kesenian sintren ini.
Saya mengenal sintren sejak kelas 2 SD, saya masih ingat ketika tetangga sebelah rumah mengadakan pesta pernikahan dan menyuguhkan pertunjukkan sintren. Terbengong wajah saya ketika melihat seorang gadis berwajah kusut dengan memakai kaos dan tubuh diikat yang tak sadarkan diri masuk dalam sebuah kurungan, kemudian di baca mantra oleh seorang pawang sambil diiiringi musik, beberapa saat kemudian gadis tersebut berubah menjadi gadis cantik lengkap dengan pakaian tari dan berkacamata. Gadis tersebut menari dan setiap ada yang melempar koin ke tubuhnya maka sintren tersebut akan pingsan, jika pingsan sang pawang akan berkomat kamit membaca mantra. Dalam sekejap sintren akan kembali menari. Ajaib bukan ?

Nadran

"Nadran"

Nadran adalah sebuah budaya yang unik, dimana tradisi ini dilakukan oleh para nelayan atas rasa syukur mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rezeki dah keselamatan kepada nelayan. Biasanya tradisi ini dilakukan dua minggu setelah lebaran Idul Fitri. Nadran sendiri berasal dari kata  “Nadzar” (Bahasa Arab) – Nadzaran – hingga disebut Nadran yang berarti kaul atau syukuran. Jika di Indramayu ada nadran, dipastikann jalan-jalan sepanjang Desa Karang Song di Indramayu akan macet, karena masyarakat (nelayan khususnya) akan tumpah ruah di daerah pantai Karang Song Indramayu.
Tradisi nadran sendiri mula-mula diawali dengan diadakannya pagelaran tari-tarian dan hiburan rakyat tradisional seperti reog, jaipong, genjring, tari kerbau dan lain-lain. Pesta ini dimulai dengan melarung sebuah perahu atau menghanyutkan sebuah miniatur perahu ke tengah laut (orang sini menyebutnya “meron”). Di dalam miniatur perahu yang sudah disiapkan tersebut, didalamnya berisi kepala kerbau, kulit kerbau, dan berbagai macam sesaji. Ketika miniatur perahu berlayar, para penduduk nelayan dengan perahunya masing-masing akan mengawal perahu yang membawa meron ini untuk kemudian dilarung ke tengah laut. Para penumpang kapal yang ikut mengawal tadi akan berbondong-bondong terjun ke laut demi memperebutkan segala sesaji yang telah dibaca mantra sebelumnya. Setelah proses pelarungan, kemudian pada malam berikutnya ada proses peruwatan air laut, dimana air laut yang telah diruwat akan dibagikan kepada para nelayan. Begitu upacara ruwatan selesai biasanya pesta nadran akan diisi oleh acara wayang kulit.

Mapag Sri


"Mapag Sri"

Indramayu adalah salah satu lumbung padi nasional. Sering kali menteri pertanian Indonesia berkunjung ke Indramayu. Entah setelah panen, maupun sebelum panen. Ada sebuah budaya yang unik yang dilakukan oleh masyarakat Indramayu sebelum musim panen tiba yang dikenal dengan Mapag Sri. Budaya ini lahir atas rasa syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah rezeki karena akan menghadapi musim panen. Bila ditinjau dari segi bahasa, “Mapag” dalam bahasa jawa atau sunda artinya menjemput dan Sri yang di maksud adalah padi, sebab Sri itu dimaknakan sebagai Dewi Sri, yaitu; Dewi yang datang memberikan kehidupan berupa makanan, yaitu; tumbuhnya padi sebagai makanan pokok. Jadi Mapag Sri adalah ritual menjemput padi sebagai sumber kebutuhan hidup. Ritual Mapag Sri dimulai dengan memotong beberapa tangkai padi yang telah menguning sebagai syarat, hal ini dilakukan sebelum dipanen, kemudian dibawa ketempat upacara ritual Mapag Sri, dan setelah semua upacara Mapag Sri selaesai, biasanya padi yang sudah diritualkan sebagai syarat tersebut, disimpan di lumbung atau gudang penyimpanan padi dengan digantungkan diatas pintu lumbung. dengan harapan padi yang mereka akan panen menjadi manfaat dan berkah bagi pemiliknya dan masyarakat lainnya. Malamnya masyarakat disuguhkan dengan pagelaran wayang kulit.

Unjungan


"Unjungan"
Beberapa hari yang lalu di Desa saya telah melakukan budaya adat unjungan atau unjung-unjungan. Budaya ini disimbolkan sebagai pengingat bagi manusia yang masih hidup agar tidak lupa untuk berziarah atau mengunjungi orang yang sudah meninggal atau wafat. Biasanya budaya ini menampilkan pagelaran wayang kulit atau sandiwara (lakon) di makam sesepuh desa atau orang sini menyebutnya sebagai “buyut”.

Rasulan atau Sunatan


"Pesta Sunatan"
Rasulan dan khitanan ini adalah sebuah budaya yang unik. Sunatan adalah sebuah prosesi syukuran acara khitanan anak laki-laki. Biasanya pihak keluarga menyuguhkan sebuah hiburan berupa organ tunggal, sandiwara, wayang, atau kesenian daerah lainnya. Pun sama denga rasulan, bedanya kalau rasulan adalah syukuran untuk anak perempuan. Tiap ada rasulan atau sunatan tiap warga memberikan buwuh (isinya uang atau beras) pada pihak keluarga yang mengadakan acara sunatan atau rasulan.

Ngarot

"1000 gadis ngarot"
Dokumentasi Pribadi

Jika ada orang Indramayu tidak tahu budaya yang satu ini, berarti dia kuper :D  dipertanyakan ke Indramayuannya. Kenapa ? Karena tiap tahun di acara Karnaval Indramayu selalu ada prosesi “1000 Gadis Ngarot”. Karnaval Indramayu merupakan salah satu rangkaian acara menyambut hari jadi kabupaten Indramayu. Ngarot adalah budaya yang berasal dari Desa Lelea, Kecamatan Lelea. Budaya ini turun temurun dari generasi ke generasi. Menurut literatur yang saya baca, budaya ngarot ini lahir pada tahun 1986 yang diperkenalkan oleh Kepala Desa (Kuwu) pertama yang bernama Canggara Wirena. Atas rasa terima kasih kepada Ki Buyut Tapol karena telah memberikan sawah kepada warga.
Kegiatan acaranya adalah mengarak perjaka dan perawan keliling desa dan kemudian berkumpul di balai desa. Mereka dipisah saling berhadapan dalam satu lingkaran luas dimana ditengah mereka ada pertunjukan tari Topeng. Saya mempunyai siswa les/privat dari Desa Lelea, jika di sana sedang ada pesta ngarot, dia tidak berangkat les. Bukan karena dia malas, tapi karena akses jalan yang dipenuhi oleh lautan pedagang dan manusia.

Tari Topeng


"Tari Topeng"

Ada satu maestro pada seni budaya tari topeng yang dalam perjalanan hidupnya hingga akhir hayat mengabdikan dirinya pada tari topeng, ia adalah Mimi Rasinah. Beliau mengajarka pada masyarakat bahwa, budaya adalah kekayaan yang harus kita jaga, kita rawat, dan lestarikan. Eropa dan Asia telah beliau lalui untuk mengenalkan tari topeng pada dunia. Maestro yang tak henti-hentinya menelurkan bakat tari pada anak-anak, agar kelak seni budaya ini bisa lestari. Walau pun beliau telah wafat, tapi semangatnya untuk terus mengenalkan tari topeng harus tetap hidup di hati masyarakat.
Tari topeng Indramayu adalah sebuah tari dimana wajah penarinya ditutupi oleh sebuah topeng. Topeng yang dipakainya pun beragam (sesuai jenis tari topengnya), memiliki makna dan sifat tertentu. Tari topeng yang berkembang di Indramayu adalah Samba Merah, Samba Udeng, dan Rumyang. 

Tepung Toya


"Tepung Toya"

Ini adalah sebuah tradisi yang biasanya dilakukan saat hari jadi Kabupaten Indramayu. Ritual tepung toya dilakukan untuk menyatukan air hulu Sungai Cimanuk yang berasal dari Garut yang disatukan dengan air hilir Sungai Cimanuk di Indramayu. Tepung toya merupakan sebuah simbol rasa syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Itu adalah sekelumit dari beberapa budaya yang tumbuh di mayarakat Indramayu. Sejatinya budaya adalah sebuah simbol rasa syukur manusia kepada Tuhannya yang diungkapkan dengan cara yang berbeda. Apa yang ada harus kita jaga dan lestarikan. Masih banyak budaya-budaya lain di Indramayu yang bisa kita temui selain yang saya tulis di atas. Indramayu adalah tempat yang unik, surga budaya, surga kuliner, surga wisata, seperti sepenggal firdaus di muka bumi. Ayo berkunjung ke Indramayu.

***

NB: Maafkan bila banyak curhatnya yaaa :D 'ambil tisyu'. Maaf juga karena hanya bisa menulis dan tak cakap photosop & correl. Selamat Ulang Tahun yang ke-3 Blogger Mangga, makin sukses dan selalu berkarya untuk Indramayu.  


luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com