Minggu, 07 April 2013

Jadi Guru Enak Loh



 sumber : Facebook pa arif "To be a teacher, U should more think about that:"

Pernahkah kalian berpikir tentang perkerjaan apa yang akan kalian geluti suatu saat nanti ?

Saya sedang memikirkan hal itu akhir-akhir ini. Entah kenapa pikiran itu muncul di saat saya sedang memasuki episode “perkuliahan penelitian” dan saya sedang berada di trek yang sebentar lagi akan mencapai garis “skripsi”. Saya kuliah di jurusan pendidikan fisika, namun tak pernah sedikitpun muncul di benak saya untuk menjadi seorang guru. Bagi saya menjadi guru adalah pekerjaan yang repot, tiap hari harus mengurusi anak orang, tiap hari harus berangkat pagi, tiap hari harus membuat RPP dan silabus pembelajaran, gaji tidak seberapa. Ya apa enaknya sih jadi guru ?

Mending jadi pengusaha, jelas punya usaha sendiri dong, mau berangkat kapan aja bisa, pasti bisa kaya, punya banyak waktu luang, punya banyak uang, mau ini mau itu bisa beli,
Tapi proses belajar yang saya alami selama ini membuat saya berubah,  merubah paradigm saya tentang guru. Pendidikan telah mengajarkan saya banyak hal tentang hidup, cinta, persahabatan, dan empati. Banyak hal yang saya dapat selama ini tanpa saya sadari semuanya tidak lepas dari proses pendidikan dari mulai TK hingga kuliah sekarang. Ada beberapa alasan yang mulai saya pikirkan ternyata jadi guru itu mulia dan bisa membuat kamu bahagia.

Ikatan Emosional Dengan Masa SMA
Kalau saya ditanya masa-masa apa yang menurut kamu paling indah selama hidup kamu ?
Tanpa ragu saya akan jawab, masa-masa SMA adalah masa yang paling indah selama hidup saya sampai sekarang ini. Mengenang masa-masa SMA membuat kamu selalu menjadi muda. Membicarakan masa “putih abu” tidak akan pernah bosan, masa SMA adalah masa dengan penuh “kebodohan dan keanehan”.
Saya orang yang sangat sulit untuk menangis, apa sih cowo ko nangis, ga banget lah masa mau nangis. Tapi sial saat perpisahan saya menangis di depan teman-teman ! Awalnya saya dan teman-teman maju untuk dikalungkan medali oleh wali kelas, disusul dengan salam-salaman dengan para guru, wakepsek, dan kepsek. Ooh meeen wali kelas saya menangis, dari situ hidung saya udah merah. Dalam hati *plis plis plis ayo tahan nanti aja nangisnya*. Salaman berlanjut dari satu guru ke guru lainnya, sampai salaman dengan pak Roni (Guru Fisika) mata saya udah sembab hidung merah. Sumpah gatau kenapa kok saya tiba-tiba jadi nangis gini, di tahan tahan malah jadi tidak tahan haha. Mungkin saya harus menagis. Saya di peluk dari belakang “BUKKKK”. “Eduu maafin saya ya kalau ada salah, saya akan jauh dari kalian” ternyata si sabiq. Mau gamau saya peluk dia juga. Dengan tangisan yang udah makin menjadi jadi saya bicara sekenanya sambil sesekali menyeka hidung “iya biq hati-hati ya di Malaysia, kamu belajar di sana, jangan nakal lagi”. Pelukan demi pelukan dan tangisan demi tangisan terus berlanjut, semua berpelukan, saat itulah semua kenagan di masa SMA berputar di memori otak saya, saat saya bahagia, saat saya sedih, saat-saat di marahi guru, saat saat nakal, saat terkena visru merah jambu, saat saya belajar untuk menjadi manusia dewasa. Saya dan mereka sudah seperti keluarga lebih dari sekedar sahabat. Walau kadang mereka menjengkelkan, kalau ulang tahun di bully sampai lupa kalau saya manusia, aah tapi semua itu indah untuk dikenang.
Kenangan-kenangan SMA itulah yang ingin selalu saya ingat, menjadi guru jiwa kita akan selalu menjadi muda, menjadi guru akan selalu mengenang masa SMA. Indah bukan untuk dikenang ? bayangan-bayangan ketika masa “putih abu-abu” akan selalu terbayang saat saya menjadi guru kelak.

Kehidupan SMA; Cinta dan Persahabatan
Menjadi guru berarti menjadi orang tua murid di sekolah. Guru bukan sekedar mengajarkan materi pembelajaran di kelas, tapi guru menjadi orang tua yang selalu meluruskan siswa nya saat mereka salah, mensuport siswanya saat mereka patah semanagat, menghibur mereka saat mereka sedih, menjadi orang yang setia mendengarkan curhat siswanya saat mereka mempunyai masalah.  Saya sendiri menyukai kehidupan dan lingkungan sosial yang ada di SMA. Kompetisi yang sehat antar siswa di SMA, segala romantika kehidupan anak remaja, persahabatan, dan rasa empati antar siswa. Saya menyukai hal-hal tentang mereka dan tentang kehidupan mereka. Mengurus anak SMA harus menggunakan pendekatan seperti seorang sahabat, seorang guru tidak bisa memposisikan dirinya terus-menerus sebagai seorang guru. Saya siap ko jadi tempat curhat mereka, secara saya kan pernah SMA juga makan “asam garam” masa SMA haha

Mempunyai Banyak Waktu
Menajdi guru kamu bisa mempunyai banyak waktu untuk keluarga di rumah. Secara kan yah guru masuk jam 7.00, pulang yaah paling jam 14.00 itu pun ga tiap hari seperti itu. Sepulang kerja bisa membangu usaha di rumah, bisa sambil menuluis buku sambil bercengkerama dengan anak istri di rumah melihat anak-anak bermain dan berlarian di sekitar rumah. Dengan begitu selain bisa mengajar kita juga bisa produktif untuk menulis, untuk membuka usaha,  dan menyalurkan hobi kita yang lain. Apa lagi kalau buka usaha di rumah, bah ! enak banget tuh kayaknya. Bisa juga dengan membuka les/private di rumah sesuai dengan  mata pelajaran yang sedang di geluti. Kalau ada yang bilang gaji guru kecil itu salah banget, gaji guru sekarang besar ! Dua kali lipat dari gaji pokok, apa lagi punya usaha sampingan ! Bah lu bisa kaya banget.

Mengabdi Untuk Masyarakat
Efek dari mempunyai banyak waktu itulah yang bisa membuat seorang guru bisa mengabdi lebih banyak kepada masyarakat. Ingat menjadi seorang guru berarti telah menafkahkan “badannya” bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk anak didiknya, untuk pendidikan bangsanya, 240 juta rakyat Indonesia. Seorang guru harus bisa mengabdi untuk masyarakatnya, di manapun seorang guru tinggal, dia bermanfaat untuk orang yang ada di sekelilingnya. Jujur saya sendiri semenjak menginjak usia SMA sangat tertutup atau jarang bergaul dengan masyarakat, bahkan teman-teman satu lingkungan sekalipun. Secara saat saya SMA,  pulang dari sekolah sore sekali, setelah itu mandi makan sholat dan belajar, pagi berangkat sekolah lagi. Waktu saya banyak dihabiskan di sekolah. Dengan menjadi guru, saya punya waktu untuk mengabdi kepada masyarakat.
 
Intinya adalah menjadi seorang guru adalah menjadi orang yang bermanfaat. Menjadi guru berarti ikut andil untuk membangun kader-kader "Manusia" di masa yang akan datang. Pekerjaan apa pun kalau di isi oleh orang yang baik maka pekerjaan itu akan menjadi baik, tapi pekerjaan yang baik kalau diisi oleh orang yang tidak baik maka akan menjadi tidak baik. Saya sedang belajar untuk itu, memperbaiki diri saya untuk menjadi orang baik, untuk masa depan cita dan cinta. Kelak bekerja sebagai apa pun saya akan selalu siap, demi agama, bangsa, dan negara ini. Indonesia Raya ~


Jumat, 01 Maret 2013

LESSON STUDY : Sebuah Proses Pembinaan Guru



Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafiah sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal, baik dalam bidang akademis, sosio-personal, maupun vokasional.  (Akhmad Sudrajat, 2008).

"Learning would be exceedingly laborious, not to mention hazardous, if people had to rely solely on the effects of their own actions to inform them what to do. Fortunately, most human behavior is learned observationally through modeling." Albert Bandura

Seperti apa yang dikatakan Bandura, observasi merupakan salah satu bagian yang sangat  penting dalam pengembangan kemampuan. Pengembangan kemampuan guru merupakan salah satu perhatian yang sangat serius di Indonesia.  Perlu adanya sebuah observasi di dalam kelas saat dilakukannya proses pembelajaran. Dengan dilakukannya pengamatan di dalam kelas, kita bisa mengamati proses pembelajaran dan menganalisis proses pembelajaran tersebut agar mendapatkan hasil pembelajaran yang efektif. Sebuah kegiatan yang mewujudkan karakteristik ini adalah lesson study.

Lesson study telah ditetapkan sebagai model yang berharga untuk meningkatkan efektivitas guru. Dalam lesson study guru memberikan kesempatan untuk membangun komunitas belajar profesional, untuk belajar dari satu sama lain, dan untuk berpikir secara mendalam tentang konten dan belajar siswa (Dubin, 2010) Selain itu, literatur menunjukkan bahwa ia memiliki potensi besar sebagai alat yang ampuh untuk memfasilitasi pertumbuhan guru dalam pengetahuan dan pemahaman isi kurikulum, pedagogi, dan belajar siswa, dan untuk mengembangkan kebiasaan pengamatan kritis, analisis, dan refleksi (Bur-roughs & Luebeck , 2010; Chassels & Melville, 2009; Murata & Takahashi, 2002; Perry & Lewis, 2003; Stigler & Hiebert, 1999). Mulyana (2007) mengatakan bahwa lesson study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Adapun menurut Sukirman (2011), lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan saling memberi untuk membangun masyarakat belajar. Selanjutnya dikatakan bahwa, lesson study merupakan suatu model pembelajaran kolaboratif antara dosen pemberi materi dan kolaborator yang dilaksanakan dalam tiga tahapan kegiatan sebagai berikut. 1) Perencanaan (Plan). Pada kegiatan perencanaan (plan), dilakukan identifikasi masalah yang ada di dalam kelas yang akan digunakan untuk kegiatan lesson study dan perencanaan alternatif pemecahannya. 2) Implementasi pembelajaran (Do). Pada tahap implementasi (do) seorang dosen pemberi materi mengimplementasikan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) di kelas. 3) Observasi serta refleksi (See) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut, sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Pada tahap refleksi (see), dosen yang mengimplementasikan rencana pelaksanaan pembelajaran diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap mahasiswa. Kolaborator yang bertugas sebagai observer memberi masukan berdasarkan data yang diperoleh, sebagai dasar untuk merencanakan kegiatan selanjutnya.

Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat: (1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa, (2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan, (3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study), (4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, (5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, (6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan (7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas (Caterine Lewis, 2002)

Bill Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat: (1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa, (2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan, (3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study), (4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, (5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, (6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan (7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.
           



Selasa, 20 November 2012

Pokoknya UPI dan Pendidikan Indonesia



Bangsa yang memiliki kualitas pendidikan yang baik, dapat dipastikan bangsa tersebut secara nyata telah mempunyai pijakan untuk membangun masa depan bangsanya. Pendidikan merupakan investasi nyata untuk membangun peradaban suatu bangsa. Jepang sudah membuktikan bahwa dengan pendidikan lah mereka bisa membangun hagemoni bangsanya. Ketika terjadi tragedi pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu, Kaisar Hirohito tidak bertanya berapa banyak tentara yang tersisa dan tidak juga bertanya berapa kerugiaan yang di derita negaranya. Namun, beliau mengajukan satu pertanyaan yang sangat fenomenal. Pertanyaan itu adalah: Berapa banyak guru yang masih tersisa ? Sang kaisar sadar untuk memulihkan rakyat setelah perang yang panjang dibutuhkan sebuah metode kejut untuk memulihkan mental bangsanya. Perlahan Jepang mulai menata ulang kurikulum pendidikan nasionalnya, pendidikan formal dan informal di sajikan secara terintegrasi di dalam institusi-istitusi pendidikan di Jepang. Semangat pantang menyerah, pendidikan karakter, dan budaya lokal disisipkan dalam setiap materi pembelajaran. Apa yang telah dirintis pemerintah Jepang untuk mencerdaskan bangsanya melalui jalur pendidikan menuai hasil yang signifikan dalam waktu kurang dari setengah abad.  Negara yang porak poranda akibat perang, beringsut secara perlahan membangun hagemoni bangsanya menjadi negara yang disegani di mata dunia. Korelasi antara majunya pendidikan Jepang dan kemajuan industrinya benar-benar terwujud. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan bangsa Jepang tumbuh menjadi negara industri utama di Asia dan sejajar dengan bangsa-bangsa Eropa. Dunia telah mencatat sejarah ini, bagaimana sebuah negara yang hancur akibat perang dengan sumber daya alam yang minim bisa menjadi negara maju dengan menerapkan metode dan dan konsep pendidikan yang sesuai dengan negaranya.

Bila melihat sejarah betapa krusialnya peran pendidikan bagi kemajuan sebuah negara, maka Indonesia sudah sepantasnya untuk memperbaiki kulitas pendidikan untuk kemajuan bangsa. Terdapat banyak perspektif dalam merumuskan parameterisasi pendidikan yang baik, namun tak bisa mengelak bahwa guru merupakan salah satu faktor penentu kualits pendidikan. Kualitas guru adalah hal yang paling krusial. Guru bisa diibaratkan sebagai juru kemudi dalam sebuah kapal yang besar dan siswa menjadi penumpangnya. Guru harus mampu mengoptimalkan semua potensi peserta didik dan mampu mengintegrasikan pendidikan formal yang di dapat dari sekolah dengan pendidikan informal yang di dapat dari lingkungan. Selama ini, para peserta didik kurang memahami secara jelas tujuan akhir dari pendidikan yang mereka tempuh sehingga paradigma yang timbul adalah pendidikan hanya merupakan formalitas belaka. Akibatnya lahirlah lulusan-lulusan yang kurang kompeten yang tidak mampu mengimbangi perubahan zaman. Dengan munculnya guru-guru yang kompeten, diharapkan profesi guru tidak dipandang sebelah mata oleh masayrakat. Tidak ada lagi stigma yang muncul kalau “Guru itu manusia  kolot dengan celana kulot dan kacamata melorot” atau pun paradigma masyarakat yang muncul pada lagu “Oemar Bakrie”, menceritakan kisah guru setiap hari yang mengajar dengan sepeda kumbang atau membawa vespa untuk menyusuri jalan yang berliku, mengabdi selama empat puluh tahun dengan gaji yang pas-pasan. Itu adalah paradigm guru di masyarakat pada zaman dulu. Tidak, nasib guru sekarang tidak senaas nasib “Oemar Bakrie”. Beda masa beda pula paradigmnya, nasib guru sekarang lebih sejahtera, Guru yang tadinya dianggap “manusia kolot dengan celana kulot dan kacamata melorot” sekarang menajdi sosok yang trendy, up to date, dan sangat di hargai di masyarakat. Citra guru pun semakin hari semakin membaik karena ditunjang oleh semakin sadarnya masyarakat tentang urgensi pendidikan.

Sebagai perguruan tinggi yang berlabel LPTK, UPI mempunyai peran yang vital untuk ikut merumuskan kebijakan-kebijakan pendidikan dan pencetak kader-kader pendidikan yang berkualitas. UPI harus mampu mencetak guru-guru handal yang bisa mengoptimalkan kemampuan siswa dan mampu mengintegrasikan pendidikan formal yang didapat dari sekolah serta pendidikan informal yang didapat dari lingkungan. UPI harus bisa mencetak guru yang mampu memberikan lebih dari sekedar “materi pelajaran”, guru-guru dari UPI harus mampu memberikan motivasi, memberikan rangsangan berpikir, memberikan pesan moral, dan soft skill. Agar para peserta didik mampu menghadapi segala hal yang akan terjadi di masa depannya kelak. 

Kampus UPI menjadi tempat untuk mencetak kader-kader pendidikan, sehingga perlu adanya peningkatan  pelayanan bagi mahasiswa di UPI dalam aktivitas studi di kampus. Kampus merupakan salah satu tingkatan dalam pendidikan, dimana di dalamnya berkumpul para intelektual, ada mahasiswa dan juga dosen. Mahasiwa adalah orang-orang yang di didik untuk menjadi para intelektual dan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa. Di tangan merekalah arah perjuangan dan perubahan dilakukan. Meningkatkan pelayanan dari sisi akademik mau pun sarana pembelajaran bagi mahasiswa sangat urgen untuk meningkatkan daya saing lulusan UPI. Diharapkan pembelajaran yang dilakukan di kampus adalah pembelajaran yang ilmiah, religius, dan edukatif. 

Pembelajaran ilmiah yang dimaksud ialah pembelajaran materi perkuliahan yang utuh dan tidak setengah-setengah, sehingga mahasiswa benar-benar mengerti serta paham apa tujuan yang akan dicapai dalam materi perkuliahan tersebut, sehingga mampu merangsang logika berpikir mahasiswa agar berprikir kritis dengan lingkungan sekitar. Karena hanya mahasiswa yang mempunyai mabda dan pemikiran kritis yang mempelajari ilmu pengetahuan dalam rangka kemaslahatan dan kebangkitan pendidikan negara ini. Dosen sangat berperan untuk mengajarkan keilmuan yang dikuasainya dan diharapkan mampu mendidik para mahasiswa sesuai apa yang di inginkan oleh masyarakat dan bangsa.  Motivasi mempelajari ilmu bukan hanya sebatas untuk mendapatkan nilai dan IPK yang tinggi, namun benar-benar disadari dengan sesadar-sadarnya bahwa ilmu itu yang akan menjadi bekalnya kelak di masa depan. 

Pembelajaran religius adalah pembelajaran yang mampu mengubah mental mahasiswa menjadi mahasiswa dengan hidup yang terarah dalam dinamika zaman, dalam idealisme, dalam prinsip, menjadi pemikir masa depan, mempunyai visi untuk bangkit, maju, dan membangun. Mahasiswa yang mampu membawa diri dan menempatkan dirinya di masa depan kelak. Sedangkan pembelajaran yang edukatif yang dimaksud ialah pembelajaran yang mampu mengubah pola pikir mahasiswa menjadi “Pola Pikir Pendidik”,  pola pikir bagi para guru bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer materi dan rumus, tapi yang terpenting adalah bagaimana membentuk mental peserta didiknya bermoral, berani dalam bersikap jujur, lebih kreatif, dan memiliki solidaritas yang kuat.

Mahasiswa UPI berasal dari beragam suku, bahasa, dan agama yang berbeda. Mereka adalah putra-putri nusantara  yang berasal dari sabang sampai marauke. Oleh karena itu, kehidupan sosial mahasiswa UPI menjadi beragam. Namun keberagaman tidak boleh membuat mahasiswa UPI menjadi terkotak-kotak, justru keberagamanlah yang membuat mahasiswa semakin dewasa untuk menyadari betapa pentingnya persatuan dan kesatuan. BEM atau pun himpunan mahasiswa adalah salah satu alat untuk menyatukan unsur perbedaan yang ada, sehingga kehidupan multidimensi di UPI menjadi sebuah kehidupan sosial yang harmonis. Di UPI pun ada organisasi daerah yang sengaja didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari daerah asal, seperti IKA DHARMA AYU (organisasi daerah mahasiswa Indramayu), RAJAWALI (organisasi daerah  mahasiswa Jawa), FORMASI (Organisasi daerah mahasiswa Minang), INSUN MEDAL (Organisasi daerah asal Sumedang) dan masih banyak lagi organisasi daerah yang lain yang tumbuh dan berkembang di UPI. Alasan mahasiswa daerah untuk mendirikan organisasi daerah cukup beralasan, mengingat bahwa mereka hidup jauh dari orang tua dan hidup di daerah lain yang secara nyata mempunyai kultur budaya yang berbeda dengan daerah asal. Adanya organisasi daerah ini cukup mengobati rasa rindu dengan daerah asal, biasanya mereka mengadakan kumpul bersama untuk temu kangen atau sekedar ber-haha-hihi dengan para mahasiswa se-daerah.

Harapannya ke depan, UPI menjadi jajaran universitas terkemuka di dunia, mempunyai lulusan-lulusan yang mampu menghadapi kemajuan zaman dan mampu membawa perubahan bagi pendidikan di Indonesia. Status universitas LPTK tidak boleh membuat lulusan UPI menjadi minder, justru itulah daya tawar mahasiswa UPI dengan lulusan universitas yang lain. Perlu diingat bahwa guru sampai kapan pun akan diperlukan, belum ada satu pun teknologi yang mampu menggantikan peran tenaga pendidik, karena belajar bukan sekedar transfer materi seperti sumber online di dunia maya, tetapi dibutuhkan transfer personality yang hanya ada dalam sosok seorang guru. Tetapi justru guru lah yang mampu mengintegrasikan segala macam bentuk teknologi menjadi sebuah media pembelajaran yang mampu memikat daya tarik siswa untuk belajar. Kemajuan UPI menjadi tanggung jawab semua Civitas akademika UPI. Bukan saja tugas rektor dan dosen, peran serta mahasiswa pun sangat dibutuhkan untuk membawa UPI ke arah yang lebih baik. Diperlukan sinergi yang kuat antara mahasiswa dan para stakeholder pelaksana kebijakan di UPI, sehingga UPI benar-benar menjadi Universitas “Pelopor dan Unggul” sesuai dengan visinya. Semoga semakin berkualitasnya Universitas Pendidikan Indonesia, maka kelak akan membawa perubahan kualitas pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik.



luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com